Sejarah Musik Keroncong
5 May 2013 09:55:01
kelompok Orkes Keroncong tengah berlatih menjelang hari Pertunmjukan
A. Sejarah Musik Keroncong Banyak
pendapat yang menyatakan bahwa musik keroncong itu adalah musik yang
dibawa oleh pelaut Portugis. Tetapi ada beberapa pendapat yang berbeda
mengenai hal ini, misalnya seperti yang dinyatakan oleh Andjar Any.
Pada
tahun 1969, Andjar Anny (tokoh musik, pengarang lagu, penulis) bertemu
dengan Antonio Plato da Franca (konsul Portugal). Pada saat itu Andjar
Any bertanya kepada sang konsul – apakah di Portugal ada musik
keroncong, atau musik sejenis yang melahirkan musik keroncong? - Dan
jawaban sang konsul adalah – tidak ada. Jangankan lagi yang berbentuk
keroncong, yang diperkirakan mirip keroncong saja tidak ada.-
Maka
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musik keroncong itu bukan musik
impor, paling tidak merupakan musik adaptasi nenek moyang kita terhadap
musik yang datang dari luar. Kalaupun asing, yang asing adalah
alat-alatnya saja. Bentuknya merupakan hasil karya nenek moyang kita.
Bahkan perihal alat musik yang digunakannya bukan hanya seperti yang
kita kenal sekarang, tetapi hal ini merupakan proses evolusi yang sangat
panjang. (Andjar Any, Musik Keroncong Musik Nusantara, 1983).
Sebelum
muncul lagu keroncong bahkan sebelum alat musik khas keroncong, yaitu
ukulele, kata keroncong sebenarnya sudah ada, antara lain muncul dalam
beberapa hal tersebut di bawah ini:
Wanita Indonesia kerap
menggunakan perhiasan emas ataupun perak. Salah satu diantaranya adalah
gelang yang disebut gelang keroncong, yaitu gelang yang terbuat dari
emas atau perak terdiri dari 10 sampai 15 gelang tipis. Apabila
pemakainya berjalan sambil melenggangkan tangannya maka akan terdengar
bunyi seperti alat musik yang sekarang disebut keroncong.
Ada
wayang orang, terdapat juga kata keroncong, yaitu untuk menamakan gelang
yang dipakai oleh tokoh-tokoh wayang, baik oleh pria maupun wanita.
Dari
sini menunjukkan bahwa kata keroncong telah lama dikenal oleh bangsa
Indonesia sebelum munculnya alat musik atau lagu keroncong. (Achmad,
Kriteria Musik Keroncong, 1983)
Sedangkan
alat musik itu sendiri diperkirakan datangnya dari kepulauan Hawai
kurang lebih pada abad ke 16. Sehingga sampai kepada lagu yang diiringi
alat musik tersebut, maka lagu itupun dinamakan lagu keroncong.
Demikianlah musik keroncong ini berkembang dari abad ke abad dan
diterima sebagai musik Indonesia.
Dalam sejarah, alat musik
ukulele ini dibawa oleh armada Portugis (1512) pimpinan Alfonso
d’Alburqueque ke kepulauan Maluku. Bunyi alat musik dan nyanyian para
pelaut ini dirasa aneh oleh para pribumi, karena mereka terbiasa dengan
bunyi pentatonic. Mereka berusaha untuk menirukannya, tetapi terbentur
suatu kenyataan bahwa cengkok serta gaya musik tradisional sangat
mempengaruhi penyajian musik para pribumi itu. Inilah yang kemudian
menjadi embrio musik keroncong.
Bagi bangsa Indonesia, nama itu
ada maksud dan ada tujuannya. Alat musik gong disebut sebagai gong
karena kalau dipukul menghasilkan bunyi “gooooooong”. Dinamakan kenong,
karena kalau dipukul akan berbunyi “nooong”, atau kethuk yang jika
dipukul akan berbunyi “thuk”. Nah untuk keroncong sendiri karena ada
alat musik ukulele/ cuk/ krung yang kalau di bunyikan akan menghasilkan
bunyi “crung”.
Lalu apakah keroncong itu?
Paling tidak ada tiga hal yang berkaitan dengan keroncong, yaitu:
1. Alat musik yang bernama keroncong, yaitu ukulele/ cuk/ krung,
2.
Lagu keroncong, yaitu jenis lagu yang mempunyai batasan-batasan
tertentu. Salah satu contoh adalah batasan birama (baar) berjumlah 28,
dengan kord yang sama meskipun berlainan lagunya. Lagu ini terbagi
menjadi 3 bagian. Bagian A terdiri dari 7 birama, kemudian interlude 3
birama, disusul bagian B yang terdiri dari 10 birama, dan bagian C yang
terdiri dari 8 birama.
3. Irama keroncong, yaitu sebuah irama
yang mempunyai suara khas pada rythme, hasil dari petikan ukulele
ditambah suara kendang dan petikan cello.
Pada mulanya irama
keroncong hanya untuk mengiringi lagu keroncong, tetapi pada
perkembangannya juga untuk mengiringi lagu langgam, stambul dan lagu
jenis yang lain, misalnya campur sari.
Pada mulanya juga musik
keroncong bercirikan alat musik kerroncong/ ukulele, tetapi pada
perkembangannya alat musik ini tidak harus ada.
B. Bentuk Lagu dan Penggolongan Musik KeroncongMeskipun
semua lagu dapat diiringi dengan irama keroncong, tetapi secara
spesifik ada beberapa jenis lagu yang sangat erat dengan irama
keroncong, yaitu:
1. Lagu keroncong, contohnya adalah lagu
"Keroncong Moritsku" (n.n), "Meratap Hati" ( Mardjokahar). Apabila
dimainkan secara asli, akan dimulai dengan intro solo biola atau flute
atau gitar dengan mengambil potongan melodi klasik. Demikian juga
interludenya. Sedangkan untuk koda adalah Tonika – Sub Dominan – Dominan
– Tonika. Birama (baar) berjumlah 28, dengan kord yang sama meskipun
berlainan lagunya. Lagu ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian A terdiri
dari 7 birama, kemudian interlude 3 birama, disusul bagian B yang
terdiri dari 10 birama, dan bagian C yang terdiri dari 8 birama. Selain
itu juga ada yang memainkan keroncong ini dengan 14 birama.
2.Langgam
Keroncong, contohnya lagu "Bengawan Solo" (Gesang), "Telaga Sarangan"
(Ismanto). Terdiri dari 32 birama dengan susunan bagian AABA, dimana
bagian B adalah refrain. Dalam hal kord, tidak terbatas pada kord yang
sama. Sedangkan untuk kodanya adalah Tonika – Dominan – Tonika.
3.
Stambul. Kata stambul berasal dari kata Istambul, yaitu pada saat
datangnya rombongan opera Istambul, yang kemudian musik opera itu
digabung dengan musik keroncong asli sehingga menhasilkan keroncong
stambul. Keroncong stambul terdiri dari:
a. Stambul I, contohnya
lagu Terang Bulan, Potong Padi. Ciri permainannya dimulai dengan Tonika.
Terdiri dari 8 birama yang dinyanyikan 2 X 8 birama, dengan kata-kata
yang umumnya berupa pantun.
b. Stambul II, contoh lagu "Kenangan"
(Sapari & WS Nardi), "Kecewa" (Samsidi). Permainannya dimulai
dengan solo vocal, kemudian disusul musiknya dengan kord Sub Dominan.
Biasanya terdiri dari 18 birama, kodanya Tonika – Sub Dominan – Dominan –
Tonika. Terdiri dari 16 birama, yang dinyanyikan 2 X 16 birama, dengan
syair berupa pantun.
c. Stambul III, contohnya lagu Sarinah,
Keroncong Kemayoran. Merupakan campuran antara lagu stambul dan
keroncong. Harmoni dimulai dengan kord Dominanseptim lalu beralih ke
Tonika, kadang-kadang sebagai pemanis juga memakai Dubbledominan.
4.Gambang Kromong. Contoh lagu "Jali-Jali". Berciri tempo cepat, syairnya berbentuk pantun.
5.Langgam Jawa. Contoh lagu "Yeng Ing Tawang" (Andjar Anny). Bercirikan notasi pentatonic dan berbahasa jawa.
Pada
mulanya instrument musik keroncong terdiri dari : 1. Gitar, 2. Ukulele
3. Banjo 4. Biola 5. Seruling/ flute 6. Mandolin 7. Rebana (Jawa Barat)
atau Jidor (Jawa Tengah dan Jawa Timur).
Dalam perkembangan
berikutnya terdiri dari 1. Biola 2. Seruling 3. Gitar 4. Cello 5. Bass
6. Banjo 7. Ukulele, yang kemudian pada perkembangan berikutnya ditambah
dengan alat musik keyboard dan juga ada kalanya diberi variasi dengan
campuran alat musik gamelan.
C. Evolusi dan Revolusi Musik KeroncongKurun
waktu panjang telah menjadikan perubahan dari musik keroncong, terutama
sekali pada alat musiknya dan akhirnya pada bentuknya pula. Dimulai
dengan ukulele pada saat masuknya para pelaut Portugis dan seiring
dengan masuknya agama Islam, maka alat musik rebana juga masuk dalam
golongan alat musik keroncong. Selain itu terdapat pula alat musik
mandolin. Bentuk ini bertahan hingga abad 19.
Pada dasawarsa abad
ke 20, munculah berbagai orkes seperti Lief Java yang didirikan oleh
Wang Suwandi (1922), yang disusul oleh orkes Melayang, Monte Carlo, dan
Doodskoppen. Ada beberapa daerah sebagai tempat berkembang suburnya
musik keroncong, yang paling utama adalah Solo dan juga Jakarta (daerah
Tugu). Pada jaman itu keroncong masih menuju ke bentuknya.
Pada
tahun 1930-an mulai ada penambahan melodi harmonica bahkan juga
sempritan burung. Baru secara bertahap muncullah biola sebagai melodi.
Pada
tahun 1930-an juga, Sastrodirono mengadakan revolusi keroncong dengan
mengganti rebana dengan petikan gitar. Hingga pada tahun 1934, Tjok
Shinsu menggantikan gitar dengan cello yang dipetik secara pizzicato
(thumb stick). Sapari termasuk mengadakan revolusi dengan mengganti
fungsi mandolin dengan gitar tetapi tidak membawa melodi pokok, tetapi
berupa contra point yang terus bergerak lincah dari awal hingga akhir
lagu. Baru pada tahun 1940-an.
Dalam hal lagu juga terjadi
revolusi lagu keroncong. Semula syair lagu keroncong berupa pantun
melayu atau parikan jawa. Tetapi pada tahun 1935 terjadi perubahan besar
dalam hal syair, yaitu dengan munculnya lagu "Rindu Malam".
Pada
jaman pendudukan Jepang di Indonesia, keroncong yang semula adalah
musik kelas bawah menjadi naik derajat karena pada waktu itu segala yang
berbau Barat dilarang oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pada saat itu
tak terjadi perubahan alat musik, tetapi ada perubahan dalam cara
petikan, antara lain cara petik cello yang semula seperti bunyi kendang
dalam gamelan berubah menjadi seperti sekarang ini. Lalu ukulele yang
semula hanya berfungsi sebagai rhythm menjadi bermelodi.
Dengan
adanya angin segar dari penguasa pendudukan Jepang, maka bermunculanlah
seniman-seniman keroncong, antara lain Samsidi, Gesang, Maryati,
Suprapti. Pada saat itu terciptalah lagu-lagu antara lain: "Bengawan
Solo" (Gesang), "Pulau Jawa", "Swadesi" (Mardjokahar/ Kamajaya).
Pada
jaman kemerdekaan Indonesia, yang pada saat itu masih terjadi perang
disana-sini, maka lahirlah lagu-lagu keroncong dengan tema perjuangan.
Tokoh-tokoh keroncong pada saat itu antara lain: Kusbini, Amirah,
Maladi, Mardjokahar, dan Samsidi.
Setelah Belanda meninggalkan
Indonesia tahun 1950, maka keroncong mendapat tempat utama diatas musik
yang lain. Munculah penyanyi-penyanyi legendaris, antara lain: Ismanto,
Waldjinah ( menjadi juara festival/ bintang radio yang diadakan oleh RRI
pada tahun 1959), S Dharmanto, Ping Astono.
Pada tahun 1960-an,
timbulah fenomena baru, dengan hadirnya irama langgam jawa, yang
dipelopori oleh Andjar Any ("Yen Ing Tawang"), yang diikuti oleh S
Dharmanto ("Lara Branta") dan juga Ismanto ("Wuyung"). Irama inilah yang
kemudian mendominasi musik keroncong. Pada saat itupun munculah
kelompok Tetap Segar yang dipimpin oleh Jendral Pirngadi yang
menggunakan alat-alat musik elektrik dalam memainkan musik keroncong.
Tetapi
seiring dengan berkuasanya orde baru, akhirnya keroncong mengalami
kemunduran, karena belantika musik dikuasai oleh musik dangdut, pop,
rock, dan lain-lain. Perubahan yang ada adalah masuknya alat musik
keyboard.
Baru setelah tahun 1990-an, keroncong seolah lahir
kembali dengan munculnya musik campur sari sebagai kelanjutan keroncong
tetapi dengan corak yang baru, baik dari segi alat musiknya, cara
penyajiannya, syairnya.
Contohnya adalah lagu "Stasiun Balapan"
yang dinyanyikan Didi Kempot. Selain itu keroncong juga coba dipadukan
dengan berbagai jenis musik, baik pop, dangdut, rock dan sebagainya.
Contohnya keroncong dipadukan dengan musik rock dan rap oleh Bondan
Prakoso dengan "Keroncong Protol"-nya.
tulisan diambil dari blog: http://njowo.multiply.com/journal998/item/
Daftar PustakaAchmad, Kriteria Musik Keroncong, 1983
Any, Andjar , Musik Keroncong Musik Nusantara, 1983